Kampanye Sepeda, Sepeda Kampanye????

Saat ini semakin banyak masyarakat mulai kembali menggunakan sepeda. Ragam motif pun muncul, ada yang menjadinya alat transportasi utama, alat olah raga bahkan hanya sekedar “lifestyle”, mengikuti tren fesyen yang sedang berlangsung. Untuk pengumpulan massa dalam kegiatan politik pun tak jarang terjadi.

Continue reading

Posted in Issue | View Comments

Kuda Beban Peradaban, Kegembiraan untuk Semua

Letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa Nusantara 1815 debu vulkaniknya membumbung tinggi keangkasa terbawa angin ke seantero belahan bumi, menghalangi sinar matahari. Masa itu dikenal dengan Eighteen Hundred and Froze to Death (ada juga yang menyebutnya The Year Without a Summer). Panen gagal, bahan pangan menipis, peternakan mengalami masa suram, kuda sebagai alat transport utama saat itu tidak berdaya mengahapi anomali iklim. Dan itu terjadi di seluruh belahan dunia, sementara pada sudut kota Mannheim di Jerman tahun 1817, dalam kondisi cuaca sangat dingin dan muram seberkas harapan muncul, kehidupan kembali berputar ditandai dengan bergeraknya mesin ciptaan Karl von Drais, seorang arsitek, agrikultur dan sekaligus fisikawan membuat sebuah mesin Laufmaschine (running Machine) kemudian dikenal dengan nama velocipede (di Indonesia diserap menjadi sepeda). Tonggak penting perdaban baru ditandai dengan munculnya sepeda dari sudut kota kecil di Jerman pada masa-masa muram. Sejak saat itu manusia tidak lagi tergantung kepada hewan untuk bepergian, disamping kesadaran baru bahwa semua manusia mempunyai kemampuan bergerak diatas 2 roda dengan kemampuan keseimbanganya. Perkembangan desain dan teknologi pada sepeda membuka pintu utnuk penemuan penemuan berikutnya. Sepeda motor merupakan pemenemuan selanjutnya setelah mesin pembakaran dalam ditemukan untuk menggantikan tenaga kayuh. Mungkin saja Dunlop tidak akan menemukan roda bertekanan angin seandainya sepeda anaknya tidak bermasalah pada rodanya. Mobil tidak akan bergerak lincah tanpa mengadopsi teknologi Chaindrive pada sepeda, bahkan kecanggihan pesawat terbang saat ini diawali dengan mengadopsi sistim keseimbangan pada sepeda.

Continue reading

Posted in Report | View Comments

Bersepeda Lambat itu Baik

It’s not about where you’re going; it’s about how you get there.

courtesy of iwantolet

Perkembangan transportasi era ini semakin mengerikan, hampir semua berorientasi pada kecepatan yang makin menjauhkanmu dari interaksi sosial dan membutakanmu dari apa yang terjadi di sekitarmu. Hal ini aneh bahwa dengan munculnya mobil dan pesawat, sepeda masih ada sampai saat ini. Mungkin orang-orang senang dengan dunia yang mereka lihat dari sepeda, atau udara yang mereka hirup ketika bersepeda. Sepeda adalah alat jelajah paling beradab dikenal manusia. Hanya sepeda yang masih memiliki hati untuk dekat dengan kenyataan bahwa kamu hidup bersama dengan orang lain.

Continue reading

Posted in Report | View Comments

Dagadu The Raceplorer

courtesy of Muhammad Oksa Kasyidi

Pada hari Minggu 26 Juni 2011 Jalanan Kota Yogyakarta, termasuk gang-gang kampung, diisi oleh lalu lalang sekitar 240 pesepeda. Mereka dengan rute mereka masing-masing bergegas memacu sepeda untuk mencapai beberapa lokasi yang tersebar di area perkotaan Yogyakarta. Hari itu dari siang sampai menjelang petang memang berlangsung sebuah reli sepeda dengan tajuk Dagadu The Raceplorer. Peristiwa ini merupakan hasil kerjasama dari PT. Aseli Dagadu Djokdja dan koperasi Genjot Mulyo.

Continue reading

Posted in Report | View Comments

Pesepeda roda satu adalah orang-orang seimbang

Sepeda roda satu (unicycle) sudah kita kenal sejak kecil sebagai satu perlengkapan si badut beratraksi didepan kita. Kita dibuat tertawa ketika melihat aksi konyol kelompok sirkus itu. Mereka sering memadukan beberapa atraksi dengan sepada roda satu ini. Sering kali badut berpura-pura bodoh tak bisa menaiki sepeda roda satu, membuat aksi jatuh yang merupakan bagian dari trik untuk melucu lalu tiba-tiba mereka bisa menaikinya dan membuat atraksi dengan juggling, menggendong badut yang lain, lompat tali, dan lain sebagainya. Kita sering terpukau oleh tingkahnya. Klekatan sepeda roda satu dengan dunia sirkus membuat  banyak orang menyebut sepeda ini sebagai “sepeda sirkus”.

Continue reading

Posted in Essay | View Comments

Jogja Last Friday Ride #12

ilustrasi oleh Adit Herehere

Sungguh luar biasa apa yang terjadi pada Jumat malam tanggal 29 April 2011 lalu. Jogja Last Friday Ride (JLFR) diikuti begitu banyak pesepeda. Mungkin jumlahnya mencapai ribuan dan membentuk kerumunan sepeda yang berkilo-kilo panjangnya. Para pesepeda menjalar menelusuri ruas-ruas jalan Kota Jogja dengan santai. Malam itu, Kota Jogja bak tenggelam dalam lautan sepeda. Jika sebelas bulan tepat pada April 2010 lalu aktivitas ini dilaksanakan pada sore hari mulai jam 17.00, kali ini JLFR dilakukan pada malam hari mulai jam 19.00. Lokasi finish juga dipersiapkan berbeda dari biasanya. Beberapa kegiatan digelar untuk menyambut massa bersepeda, diantaranya dengan lomba-lomba, aksi trik pesepeda dan pemutaran film. Jumat terakhir bulan April memang istimewa, JLFR genap berusia satu tahun. Continue reading

Posted in Report | View Comments

Jogja Tidak Perlu Car Free Day

ilustrasi oleh Adit Herehere

Car Free Day atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor, merupakan gerakan dunia yang bertujuan  menyosialisasikan kepada masyarakat dalam hal menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan bermotor. Kegiatan ini biasanya didukung oleh aktivis lingkungan dan transportasi. Continue reading

Posted in Report | View Comments

Sepeda dan Sinetron Gerakan Hijau

 

Ada banyak kisah yang dibuat oleh sepeda, bisa jadi kelak menjadi epik kepahlawanan layaknya Spartacus. Salah satu kisah heroik sepeda itu adalah jasanya dalam mengurangi emisi karbon yang memicu perubahan iklim global. Continue reading

Posted in Report | View Comments

Sepeda, Ruang yang Mencari Ruang

Berbicara mengenai ruang terbuka kota, seperti juga di kebanyakan kota di Indonesia, di Jogja ruang terbuka publik kebanyakan bukan “dibuat untuk” tetapi “dibentuk oleh” aktivitas. Seperti misalnya orang-orang yang berkumpul untuk menikmati sore di pinggiran rel kereta api di sekitar bawah flyover Lempuyangan, lengkap dengan hadirnya berbagai penjual makanan dan mainan. Area tersebut tidak dibuat atau direncakanan sebagai ruang publik untuk mewadahi aktivitas semacam itu, tetapi aktivitaslah yang membentuk area itu menjadi ruang terbuka publik. Pembentukan ruang publik seperti itu itu banyak dijumpai di sudut-sudut Kota Jogja yang lain; dari kolong jalan layang, trotoar, hingga area parkir toko-toko yang sudah tutup. Continue reading

Posted in Report | View Comments

Mangkubumi Late Night Bicycle Playground

Siapa yang tak kenal Jalan P. Mangkubumi Yogyakarta. Terletak di pusat kota Jogja, selatan Tugu. Setiap harinya Jalan ini ramai dilewati masyarakat, padat dengan segala aktivitasnya. Jalan yang menggunakan nama Sultan pertama di Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat ini merupakan salah satu kawasan tua yang yang menjadi jantung perekonomian kota Jogja. Continue reading

Posted in Report | View Comments