Letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa Nusantara 1815 debu vulkaniknya membumbung tinggi keangkasa terbawa angin ke seantero belahan bumi, menghalangi sinar matahari. Masa itu dikenal dengan Eighteen Hundred and Froze to Death (ada juga yang menyebutnya The Year Without a Summer). Panen gagal, bahan pangan menipis, peternakan mengalami masa suram, kuda sebagai alat transport utama saat itu tidak berdaya mengahapi anomali iklim. Dan itu terjadi di seluruh belahan dunia, sementara pada sudut kota Mannheim di Jerman tahun 1817, dalam kondisi cuaca sangat dingin dan muram seberkas harapan muncul, kehidupan kembali berputar ditandai dengan bergeraknya mesin ciptaan Karl von Drais, seorang arsitek, agrikultur dan sekaligus fisikawan membuat sebuah mesin Laufmaschine (running Machine) kemudian dikenal dengan nama velocipede (di Indonesia diserap menjadi sepeda). Tonggak penting perdaban baru ditandai dengan munculnya sepeda dari sudut kota kecil di Jerman pada masa-masa muram. Sejak saat itu manusia tidak lagi tergantung kepada hewan untuk bepergian, disamping kesadaran baru bahwa semua manusia mempunyai kemampuan bergerak diatas 2 roda dengan kemampuan keseimbanganya. Perkembangan desain dan teknologi pada sepeda membuka pintu utnuk penemuan penemuan berikutnya. Sepeda motor merupakan pemenemuan selanjutnya setelah mesin pembakaran dalam ditemukan untuk menggantikan tenaga kayuh. Mungkin saja Dunlop tidak akan menemukan roda bertekanan angin seandainya sepeda anaknya tidak bermasalah pada rodanya. Mobil tidak akan bergerak lincah tanpa mengadopsi teknologi Chaindrive pada sepeda, bahkan kecanggihan pesawat terbang saat ini diawali dengan mengadopsi sistim keseimbangan pada sepeda.
Continue reading →